Berita  

Menjelang Penerapan Pembelian BBM Dengan Sistem Non Tunai Ini Reaksi Masyarakat Kalbar

Sekadau, Kalbar- Mentarikhatulistiwa.id. PT.Pertamina (Persero) mencoba untuk memudahkan konsumen yang membeli Bahan Bakar minyak (BBM) pada Spbu yang berada Di seluruh Indonesia dengan metode pembayaran nontunai atau cashless yang akan diterapkan dalam waktu dekat ini.

Sehingga konsumen tidak perlu membawa uang tunai saat melakukan pengisian BBM, hanya tinggal melakukan scan barcode yang terpasang pada mesin dispenser SPBU.

Menariknya lagi, dengan metode tersebut tidak ada batas minimal untuk setiap pembelian BBM.

Namun dibalik itu, sistem pembayaran ini membuat konsumen tidak dapat membeli BBM sampai full tanki atau penuh, seperti yang biasa dilakukan saat menggunakan transaksi secara tunai.

Disisi minusnya, akibat metode tersebut ada beberapa dampak yang akan dirasakan masyarakat khususnya yang tinggal di pedesaan serta pedalaman Nusantara Indonesia.

Beragam komentar masyarakat dengan rencana Pertamina untuk menerapkan metode non-tunai tersebut, juga dilontarkan oleh warga Di Kabupaten Sekadau Provinsi Kalbar

Paung (40) salah satu tokoh pemuda Di Kecamatan Sekadau Hilir Kabupaten Sekadau, Kamis (30/6/22) mengatakan kepada Mentarikhatulistiwa.id.
” Oke, bagi warga yang diperkotaan, itu meringankan, tak perlu bawa uang Cass bisa dapat minyak. Akan tetapi, bagaimana dengan saudara, keluarga kami sebagai masyarakat yang tinggal dipehuluan yang jauh dari kota, apakah harus kejar ke SPBU (dikota) hanya membeli 2 liter untuk mengisi motor/jenis kendaraan yang lainnya,
Sangat tidak masuk akal, iya kan ..?” tegasnya.

Seharusnya dalam hal ini pihak instansi terkait tolong mempertimbangkan lagilah, pintanya.

Lanjutnya, selama ini bagi saudara, Keluarga kami yang merupakan masyarakat dipehuluan merasa sangat terbantu dengan adanya kios-kios penjual BBM dipinggir jalan diwilayah Kecamatan maupun pedesaan.

Mereka (red) jikalau ingin bepergian baik ke kota maupun ke kebun, dengan mudah bisa ngisi minyak dipinggir jalan, walaupun beda harga, tapi kita maklumi itu karena biaya operasional tinggi.

Apabila pihak terkait dalam hal ini Pertamina menerapkan metode non-tunai atau cashless, otomatis pengecer ditepi jalan tutup tidak bisa jualan lagi, imbasnya tetap masyarakat kecil yang tinggal di perkampungan yang merasakan juga, ucapnya.

Senada juga Ri (50) warga Kecamatan Belitang Hilir Kabupaten Sekadau Kalbar, menyatakan apa yang dikomentari oleh Paung dengan kebijakan Pemerintah atas rencana diterapkannya metode non tunai atau cashless pengisian BBM tersebut, jikalau diberlakukan semua daerah berarti akan jadi terbalik, “masyarakat di perkampungan tidak bisa pake Subsidi karena jarak tempuh, sedangkan untuk diperkotaan bisa”.

Ri warga Desa Sei ayak ini, juga menegaskan apalagi untuk BBM jenis Pertalite justru menurut kaca mata saya di lapangan, sangat tepat sasaran jikalau dibantu dengan cara diangkut ke perkampungan warga untuk didistribusikan langsung kepedalaman yang jaraknya rata-rata puluhan s/d ratusan kilo dari Spbu Perkotaan. karena untuk dalam hal ini konsumsinya atau penggunanya hampir 100% kendaraan roda 2, Justru kurang tepat jikalau pengangkutan Pertalite ke kampung atau pedalaman kedepan bisa dipermasalahkan terkait rencana program non tunai tersebut, Ungkapnya.

Kita ketahui bersama bahwa masyarakat daerah perkampungan pedalaman yang mayoritas petani dan pekebun untuk saat ini mengalami dampak sosial akibat harga karet dan harga sawit anjlok, dalam situasi seperti ini jangan sampai terimbas kembali dengan program yang rencananya akan diterapkan tersebut, kasihan masyarakat, tutupnya. (Tim/Boim)

Leave a Reply

Your email address will not be published.