” Bicara Akhlak Tapi Ngotot Dengan Cara Kurang Berakhlak, Ada Apa Sebenarnya…?

PONTIANAK,Mentarikhatulistiwa.id-Dinamika yang terjadi dalam Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama ke VIII Kalimantan Barat menjadi catatan sejarah dalam pemilihan ketua Tanfidziah PWNU kalimantan Barat.
terbukti dari beberapa tokoh yg mulai bermunculan. yang awalnya akan di laksanakan pada tanggal 25-26 juni 2022 mundur sampai hari ini belum ada penentuan pasti terkait berjalannya konferwil NU kalimantan barat tersebut.

Beberapa tokoh yang bermunculan pada hari ini diantaranya Andi safrani, dr. Syarif, hasyim Hadrawi, Andi Nuradi ke empat orang tersebut di gadang-gadang sebagai calon kuat untuk menahkodai PWNU Kalimantan Barat kedepannya.

dari beberapa calon di atas ada yang terindikasi sebagai pengurus DPD Jamaah Islamiah Kalimantan barat. yang mana hal tersebut mengundang reaksi keras dari beberapa kyai yang ada di wilayah kalimantan barat, seperti gus tohidin ketua pcnu sekadau, Kyai samadikun dari KKU, Sahabat Safari Hamzah dari Singkawang, Ustadz Syam dari KKU dan kini datang lagi dari kader muda NU sanggau slamet. dengan tegas menolak pencalonan tersebut. karena berkaitan idiologi Ahlussunah Waljamaah Annahdliyah yang selama ini di ajarkan oleh kyai-kyai NU pada umumnya. slamet selaku mantan kasadkorcab banser sanggau menegaskan dengan ini sangat menolak jika salah satu calon adalah orang dari Jamaah Islamiah. yang kita tau selama ini Jamaah Islimiah banyak dipermasalahkan di banyak tempat.

Penolakan tersebut didasarkan adanya Surat Keputusan DPP Jam’iyyatul Islamiyah Nomor : Kep-006/DPP-JmI/VIII/2015 tentang Komposisi dan Personalia DPD Jam’iyyatul Islamiyah Provinsi Kalbar masa bakti 2015-2020.

Menurut Slamet kejadian langka yang baru terjadi seumur NU ada di Kalbar ini terus mendapatkan perhatian banyak pihak.

” Setau saya ini baru pertama terjadi di Kalbar, ada orang diluar NU memaksakan diri maju ketua PWNU dengan segala cara, kemudian menyebabkan gelombang penolakan dimana – mana, sehingga suasana di internal NU menjadi terus bergerak dengan sangat dinamis dan cenderung memanas “. begitu Slamet mengatakan saat dimintai tanggapannya terkait perkembangan konferwil hari ini.

Slamet juga menyayangkan calon yg ditolak berbagai pihak karena prinsip Idiologi ini bukan nya instrospeksi diri, justru malah ngotot sambil menyerang balik disatu sisi dan membangun pencitraan disisi lain.

” Ini kok saya merasa ada yang aneh ya, ada orang ditolak karena hal prinsip bukan nya instrospeksi malah menasehati orang lain ttg akhlak, seolah dia saja yang paham akhlak ” begitu Slamet menambahkan.

Slamet yang juga pernah menjadi simpul penggerak kaum muda NU Sanggau ini bahkan menyatakan : ” itukan jelas dia ditolak karena alasan Idiologi, wajar dong orang NU mempertegas Idiologinya ” .

Dengan nada geram Slamet juga menjelaskan bahwa semestinya orang yang ditolak itu harus tau diri, kalo memaksakan maju karena dia mau maju ketua NU ya dia harus dapat legitimasi formal dari NU secara Lembaga tentang Idiologi yang dipermasalahkan itu, bukan justru ngotot dengan berbagai macam dalih yang tidak ada kaitannya dgn alasan Penolakan yang dilontarkan.

” Dia mau maju Ketua NU , dia sendiri mengakui sebagai orang dalam organisasi diluar NU, kemudian dipersoalkan orang, mestinya dia fokus saja menunjukkan legalitas formal kalo memang dia pernah ikut Kaderisasi di NU mana bukti formalnya dari lembaga di dalam NU, kalo dia bilang Idiologi organisasi yang diikuti diluar NU itu tidak bermasalah ya tunjukkan saja legalitas Formal nya dari NU secara Lembaga, selesai urusan tak perlu mutar2 kemana ” tegas Slamet dengan nada geram.

” Ini malah mengatakan orang lain menuduh tanpa Tabayyun. terdengar selentingan dia mau melaporkan salah seorang Kiyai yang menolak ke jalur hukum, kalo selentingan ini benar terjadi lalu akhlak seperti apa yang dia maksudkan, bicara akhlak tapi mau ngelaporin Kiyai ke jalur hukum hanya karena merasa panik dengan Penolakan, sebagai orang yang dididik untuk mengawal Kiyai, mendidih rasanya darah saya mendengar nya ” begitu Slamet menambahkan dgn nada sedikit meninggi.

Beberapa Kiyai justru mempertanyakan ini sebetulnya ada apa kok Ngotot sekali ingin jadi Ketua, padahal di NU itu secara akhlak justru menolak kalo ditawari jabatan.

Adalah Abah Baihaqi yang mempertanyakan ngotot nya orang diluar NU ini ingin jadi Ketua.

Dengan lemah lembut beliau memberi nasihat : ” kalo memang punya niat tulus mau khidmat di NU mestinya contoh para Ulama NU terdahulu yang menolak ketika ditawari jabatan, begitulah akhlak di NU, kalo ngotot terus orang malah jadi berfikir ini sebenarnya ada apa, kan rugi sendiri nantinya ” demikian dengan menghela nafas panjang Abah berujar lembut dan menyentuh rasa yang paling dalam.

Dikesempatan yang sama Abah Baihaqi salah seorang Ulama Sanggau yang sangat disegani ini juga memberikan masukan agar kiranya ada gerakan yang lebih kongkrit dari para Rois Syuriah di semua PCNU Se Kalbar untuk juga ikut bersuara soal seperti ini.

” Saya berharap para Kiyai di Jajaran Syuriah PCNU se-Kalbat berkenan ikut turun gunung menanggapi polemik ini, dengan mauidhoh dan hikmah seperti lazimnya tradisi di NU, hemat saya ini kurang baik jika dibiarkan terus berlarut, jika para Rois Syuriah sudah turun tangan maka bisa dipastikan yang lain di NU akan Sam’an Wa Tho’atan ” begitu harapan Abah Baihaqi diiringi roman muka serius dengan senyum khas yang menyejukkan.(**)

Leave a Reply

Your email address will not be published.